Rabu, 26 September 2012

PERJALANAN SEJARAH LAGU-LAGU PERJUANGAN INDONESIA DALAM KONTEKS PERSATUAN BANGSA

A. Arti Nasionalisme

Berkembangnya nasionalisme modern di Eropa yang dipelopori oleh para akhli ilmu pengetahuan, di Indonesia lahir kebangkitan nasional yang dipandang sebagai awal tumbuh dan berkembangnya sejarah yang pertama kali dipelopori oleh tokoh pergerakan kebangsaan seperti Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Bangkitnya nasionalisme ditandai lahirnya semangat kebangkitan nasional melalui organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Dengan tujuan “mencerdaskan bangsa”, berdasarkan kesadaran, tekad, dan upaya untuk mamajukan bangsa atas dasar falsafah dan wawasan yang bersumber pada kepribadian nusantara, didukung para cendekiawan berbasis pada pendidikan nasional untuk melawan bangsa penjajah.1

Nasionalisme merupakan kesadaran bersama yang dapat mempersatukan suku-suku bangsa yang hidup dinusantara. Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnya keinginan seluruh rakyat Indonesia membentuk negara kesatuan.2 Dalam perjalanan sejarah Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik Barat kepada abdi dalem di kesultanan kraton Yogyakarta dan kasunanan kraton Surakarta tujuannya agar dapat memainkan lagu kebangsaan ‘Wilhelmus’, saat upacara kunjungan tamu resmi para pejabat dari negeri Belanda. Selain itu perlakuan istimewa terhadap lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ serta diakuinya bahasa melayu sebagai bahasa nasional memicu timbulnya peluang dan konflik bagi kelompok cendekiawan Jawa yang ingin menguasai lagu kebangsaan dengan alternatif musik ritual yang khas dapat mewakili puncak kebudayaan nasional melalui instrumen gamelan. Usaha itu dilakukan dengan mencoba mengerahkan para empu gamelan di tahun 1930-an untuk dapat memodernisasi gamelan baik dari segi praktek maupun teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Mr. Muhammad Yamin, bahwa usaha-usaha untuk memainkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ terbukti mengalami kegagalan, oleh karena secara teknis lagu itu memakai sistem tangganada diatonis, sedang untuk instrumen gamelan menggunakan tangga nada pentatonik.

Pada masa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme perkembangan musik diatonis berubah menjadi fenomena politik, disebabkan perbedaan pandangan tentang musik nasional. Perkembangan musik diatonis sebagai sarana pendidikan nasionalisme mengalir seiring munculnya generasi penerus setelah W.R. Supratman dan M. Syafei pendiri sekolah I.N.S. Kayutanam di Sumatera Barat, yaitu diantaranya munculnya para pemusik asal daerah Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jerman yang cukup handal. Para pemusik terkenal itu ialah Cornel Simanjuntak (komposer), Amir pasaribu (komposer, kritikus), J.A. Dungga (krtikus), L. Manik (komposer), Binsar Sitompul (komposer) dan W. Lumban Tobing (Etnomusikolog).3 Di Jawa dikenal Ismail Marzuki (komposer), Kusbini (komposer), Bintang Sudibyo (komposer), R.A.J. Soedjasmin (komposer, pendidik). Para pemusik ini tidak hanya beranggapan bahwa budaya musik nasional eksotisme tidak boleh dibangun diatas budaya musik jawa, tetapi harus mengikuti pola musik diatonis secara umum lebih mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kebinekaannya. Usaha seperti ini sebenarnya sudah dirintis jauh sebelum itu oleh para pemuda di tahun 1920-an menjelang Sumpah Pemuda, mengenai peranan musik diatonis yang dapat mewakili berbagai suku di Indonesia. Diantaranya dihimpun oleh organisasi kepemudaan yaitu paguyuban Pasundan, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Timorch Verbond, Kaum Betawi, Sekar Rukun, Islamieten Bond. Perkumpulan itu adalah cikal bakal perjuangan kedaerahan setelah tahun 1926 meningkat kearah persatuan pemuda semakin kuat. W.R. Supratman sebagai seorang pemuda patriotis sering mengikuti rapat-rapat tersebut yang dimulai dari gang Kenari sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan, hingga ia berkewajiban mendorong semangat persatuan melalui lagunya.

Sejak itu tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia, tidak hanya semata-mata didasarkan pada persamaan-persamaan sikap primordialisme, akan tetapi sudah bersifat terbuka. Di ilhami oleh cita-cita kebangkitan nasional dari tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda, yaitu satu Nusa, satu Bangsa, dan satu Bahasa. Bahasa Melayu yang diakui sebagai bahasa nasional, merupakan suatu kekalahan bagi bahasa Belanda, sebagai simbol ikrar, teks Sumpah Pemuda serta lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ memakai bahasa Indonesia serta sekali gus diakuinya musik diatonis. Akhirnya disimpulkan guna menetralisir keanekaragaman para pemuda Indonesia perana musik nasioanl tidak lagi berpihak kepada etnis Jawa atau lainnya, tetapi harus bersifat universal seperti dalam kedudukan musik diatonis. Oleh karena itu sistem tangga nada selendro dan pelog yang mendasari lagu-lagu instrumen gamelan perlu dihindari.4

B. Fungsi dan Jenis Lagu Perjuangan

Lagu Perjuangan Indonesia disebut dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk tujuan nasional. Dalam sejarah musik dikenal bahwa musik berfungsi mengiringi peribadatan agama (ritual), musik mengiringi tari berfungsi sebagai sarana hiburan. Fungsi primer lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah sebagai sarana upacara, dimana kedudukan para pemain dan peserta didalam seni pertunjukan harus dilibatkan, hingga seni pertunjukan jenis ini bisa disebut the Art of Participation. Fungsi sekunder lagu-lagu perjuangan sebagai media agitasi politik berguna untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penindasan, dan keberadaan jenis lagu-lagu ini di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jumlahnya cukup banyak. Sebagai seni pertunjukan dalam lagu-lagu perjuangan, idiom musik barat dikemas berdasarkan kemampuan musikalitas masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Secara umum pengertian lagu-lagu perjuangan adalah kemapuan daya upaya yang muncul melalui media kesenian di dalam peranannya pada peristiwa sejarah kemerdekaan di Indonesia. Upaya ini disebut sebagai sikap patriotis didalam konteks sejarah sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional lagu-lagu perjuangan disebut sebagai lagu wajib, diajarkan mulai pada tingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui seluruh masyarakat Indonesia. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui Intruksi Menteri Muda Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan Nomor. 1 tanggal 17 Agustus 1959, diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963, telah ditetapkan 7 buah lagu-lagu perjuangan sebagai lagu wajib yaitu (1) lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman. (2) lagu ‘Bagimu Neg’ri ciptaan Kusbini. (3) lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak. (4) lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki. (5) lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ ciptaan Ismail Marzuki. (6) lagu ‘Berkibarlah benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, dan (7) lagu ‘Satu Nusa satu Bangsa’ ciptaan L. Manik. Dalam uraian berikut ini dijelaskan pula tentang apa yang dimaksud sebagai sebagai jenis lagu-lagu perjuangan Indonesia menjadi empat jenis sebagai berikut.

1. Lagu Himne

Himne atau Himnos dalam bahasa Yunani diartikan untuk penghormatan dan pemujaan kepada dewa, para pahlawan atau tokoh pemimpin terkemuka, terutama dipersembahkan sebagai tanda perdamaian atau pernyataan terimakasih kepada dewa Apollo. Pada perang Dunia II jenis lagu ini berkembang dan dipakai dalam kemiliteran di Inggris untuk diperdengarkan kepada serdadu guna memotivasi moral para prajurit di medan pertempuran seperti dalam lagu ‘there’ll be an England’.

Di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jenis lagu himne menjadi inspirasi para pencipta di masa pendudukan tentara Jepang tahun 1942-1944, sebagai pemujaan dalam membangun moral cinta tanah air, berjuang di jalan kebenaran. Pada masa revolusi jenis lagu-lagu ini dinyanyikan secara teratur oleh para pemuda pemudi pelajar pelajar di Yogyakarta sebagai pusat perjuangan untuk dipergunakan pada perayaan upacara di istana Kepresidenan dalam aubade dan paduan suara pada acara resepsi kenegaraan, pertunjukan kesenian atau dalam acara siaran radio. Lagu tersebut ialah ‘Bagimu Neg’ri’ ciptaan Kusbini, ‘Tanah Tumpah Darahku’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ ciptaan L. Manik, ‘Mengheningkan Cipta’ ciptaan T. Prawit.

2. Lagu Mars

Mars dalam bahasa Inggris disebut Marche, dalam bahasa Perancis disebut Marcia. Mars ialah musik dengan irama cepat berfungsi untuk membangkitkan semangat pasukan dengan gerak langkah serempak dalam prosesi militer yang rapih. Musik mars merupakan ornamentasi irama drum dalam tempo cepat, dengan aksen yang kuat dikembangkan kedalam frase kunci mayor.

Di Indonesia lagu-lagu mars patriotik pada masa perang kemerdekaan digunakan dalam bentuk yang sama oleh para pemuda yang dikirim bertempur ke garis depan. Berlainan dengan jiwa semangat lagu mars propaganda Jepang yang diatur dan ditentukan oleh Keimin Bunka Shidosho. Sebagai perasaan nasional dalam perkembangannya jenis lagu-lagu ini dapat dibagi menjadi dua yaitu, pertama, fungsi primer lagu mars bersifat konstruktif memiliki makna sebagai sarana upacara disebut jenis magnetic song, yaitu lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman, bila lagu ini berkumandang para peserta upacara harus berdiri tegap di tempat dengan pandangan kedepan, hingga setiap warga negara akan dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan tidak jarang orang menitikan air mata atas keagungan lagu tersebut. Kedua, fungsi sekunder lagu mars perjuangan bersifat membangkitkan semangat cinta tanah air melawan penjajahan bersifat uraian seperti pidato yang bersenandung memiliki makna agitasi disebut jenis rheoric song dinyanyikan dalam prosesi berjalan contohnya adalah lagu ‘Maju tak Gentar’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Sorak-sorak Bergembira’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki, ‘Berkibarlah Benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, ‘Hari Merdeka’ ciptaan H. Mutahar, ‘Dari Barat Sampai Ketimur’ ciptaan R. Sunaryo.

3. Lagu Percintaan

Pada masa revolusi di Indonesia selain jenis lagu himne dan mars, muncul pula lagu-lagu perjuangan yang bernuansa percintaan erat kaitannya dengan perasaan romantika para pemuda dalam suasana cinta yang mengharukan. Hampir semua lagu-lagu jenis ini bercerita tentang perjuangan dan cinta yang dialami seor

Selasa, 18 September 2012

Laporan Praktikum Tulang Manusia



  • Tujuan :
    • mengamati struktur tulang keras dan rawan
    • mengetahui zat yang membuat kuat tulang
  • Dasar teori : tulang rawan tersusun atas sel-sel tulang rawan yang meyekresikan metrik berupa hialin atau kolagen. Tulang keras yaitu jaringan tulang yang terdiri dari sel-sel tulang (osteosis) yang mengandung zat kapur (kalsium) dan mengandung sedikit zat perekat, zat fosfor yang menyebabkan keras
  • Hipotesis : tulang keras akan menjadi lunak karena kehilangan zat penguatnya karena diendapkan oleh cuka sehingga menjadi lentur
  • Alat dan bahan : 
    • tulang ayam
    • cuka
    • beker gelas 
    • pinset dan sarung tangan
    • cawan peri
  • Cara kerja :
    • Menyiapkan tulang yang sudah dibersihkan dari sisa-sisa daging yang melekat
    • mengamati tulang sebelum dilakukan perendaman
    • memotong sedikit bagian tulang agar lebih mudah mengamati bagian dalam tulang
    • mencatat hasil pengamatan tadi dalam tabel data
    • merendam tulang dalam larutan cuka selama kurang lebih 1 jam
    • mengangkat tulang dari larutan cuka dengan hati-hati menggunakan sarung tangan serta pinset, kemudian meletakkan  di cawan petri
  • Analisa : dari percobaan di atas dapat diketahui bahwa tulang sebelum direndam cuka masih keras dan setelah direndam cuka tulang menjadi lunak dan elastis, hal ini dikarenakan kandungan kandungan fosfor dalam tulang terlarut
  • Kesimpulan : tulang keras bersifat kuat karena adanya fosfor sedangkan tulang rawan sedikit mengandung fosfor.

Sabtu, 15 September 2012

LIN

Lin Menolak Disamakan Dengan Yao Ming- Jeremy Lin memutuskan untuk tidak menganggap serius pertanyaan apakah ia orang Taiwan atau China. Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah satu wartawan yang meliput kunjungannya ke Taipei, Taiwan akhir pekan lalu.

Akhir-akhir ini publik Taiwan dan China dikabarkan berperang kata-kata untuk mengklaim pebasket NBA yang lahir di Los Angeles, Amerika Serikat tersebut. Kedua orang tua Lin memang berasal dari Taiwan, namun nenek moyangnya berasal dari China.

Sehari setelah mengunjungi Taiwan untuk pertama kali sejak kehebohan 'Linsanity' merebak, pemain Houston Rockets itu disodori pertanyaan apakah ia memilih sebagai orang Taiwan, China atau Amerika Serikat.

Pebasket berusia 23 tahun itu menolak untuk memberikan jawaban yang jelas. "Kalian semua tahu latar belakang keluarga saya. Kedua orang tua saya lahir di sini," ujarnya.

Selain itu, Lin juga menolak untuk dibandingkan dengan mantan pebasket NBA asal China, Yao Ming. Yao bergabung dengan Rockets pada tahun 2002. Ia merupakan pebasket pertama di luar Amerika Serikat yang masuk ke dalam pilihan teratas NBA Draft.

"Saya rasa kita semua harus berhati-hati dalam membandingkan diri dengan orang lain," ujar Lin. "Yao sangat berarti bagi saya. Ia banyak membantu. Apa yang saya ingin lakukan adalah menginspirasi para pemuda untuk bermain basket, seperti dirinya."

Popularitas Lin meningkat tajam setelah ia bermain apik dengan New York Knicks awal tahun ini. Ia terkenal dengan kemampuan menembak dan passing. Bulan lalu ia resmi bergabung di Rockets dengan kontrak senilai USD 25 juta untuk tiga tahun.

Kobe Bryant: 'Alami' Jika Saya Akhiri Karir di Eropa



Kobe Bryant: 'Alami' Jika Saya Akhiri Karir di Eropa
Kobe Bryant saat bertanding di Olimpiade London 2012.

Bola.net - Selagi bertanding di Olimpiade London, Kobe Bryant sempat membicarakan kemungkinan mengakhiri karir di Eropa. Meski lahir di Philadelphia, Amerika Serikat, Bryant tumbuh dewasa di Italia. Pebasket yang bulan ini akan berusia 34 tahun tersebut mulai membicarakan rencana di penghujung karir NBA-nya.

"Akan sangat 'alami' jika saya mengakhiri karir di Eropa. Saya rasa tidak akan ada kesulitan, karena saya tumbuh dewasa di sana," ujar Bryant yang masih memilik kontrak selama dua tahun bersama Los Angeles Lakers.

Anak dari mantan bintang liga basket Italia, Joe Bryant itu berpendapat bahwa dirinya akan terus mengamati level permainan basket Eropa.

"Kita semua harus terus mengamati bagaimana peningkatan level permainan basket di Eropa. Saya lihat Turki memiliki level kompetisi yang tinggi. Bahkan mungkin mereka memiliki liga terbaik di Eropa saat ini,"

Lebih lanjut, pebasket berjuluk Black Mamba itu juga mengaku Spanyol merupakan salah satu negara yang berbasis basket tinggi. Menurutnya, Negeri Matador memiliki liga basket terbaik sejak lama.

"Italia memiliki tempat tersendiri di hati saya karena saya tumbuh besar di sana. Namun level kompetisinya tidak lagi sama. Ketika saya masih tinggal di sana, Italia adalah liga basket terbaik di Eropa,"

Kevin Garnett


Hi-res-145471868_display_image
Mike Ehrmann/Getty Images
The Boston Celtics need to get younger, and they took a step in that direction this summer when they let sharpshooter Ray Allen leave via free agency. Yet, when it came to another aging free agent in power forward/center Kevin Garnett, GM Danny Ainge's approach was different.
Instead of letting Garnett walk and investing in a younger big man either through the draft or free agency, Ainge inked the 17-year veteran to a three-year deal worth $34 million.
Simply put, Garnett needs to show up to training camp in A1 shape next month. Not only has his production dropped since coming to Boston, but he has yet to play a full 82-game season since 2005, when he was with the Minnesota Timberwolves.
Yes, he can still be a dominant defender and his performance in the playoffs last year was unbelievable, but Garnett has looked older and older each of the past three seasons.
That all being said, he simply can't just go out and give what is expected of him once the season begins. On top of his usual effort, he needs to show some more hunger to prove that he is worth the money he's being paid. Otherwise, fans will view him as just another overpaid and oft-injured player.